Ungkapan Sederhana Untuk Istri Tercinta
Oleh : Fitron Nur Ikhsan
Bila malam sudah beranjak mendapati Subuh, bangunlah sejenak. Lihatlah istri
Anda yang sedang terbaring letih menemani bayi Anda. Tataplah wajahnya yang
masih dipenuhi oleh gurat-gurat kepenatan karena seharian ini badannya
tak menemukan kesempatan untuk istirah barang sekejap, Kalau saja tak ada
air
wudhu yang membasahi wajah itu setiap hari, barangkali sisa-sisa
kecantikannya sudah tak ada
lagi.
Sesudahnya, bayangkanlah tentang esok hari. Di saat Anda sudah bisa
merasakan betapa segar
udara pagi, Tubuh letih istri Anda barangkali belum benar benar menemukan
kesegarannya.
Sementara anak-anak sebentar
lagi akan meminta perhatian bundanya,
membisingkan telinganya
dengan tangis serta membasahi pakaiannya dengan pipis tak habis-habis. Baru
berganti pakaian,
sudah dibasahi pipis lagi. Padahal tangan istri Anda pula yang harus
mencucinya.
Di saat seperti itu, apakah yang Anda pikirkan tenang dia? Masihkah Anda
memimpikan tentang
seorang yang akan senantiasa berbicara lembut kepada anak-anaknya seperti
kisah dari negeri
dongeng sementara di saat yang sama. Anda menuntut dia untuk nenjadi istri
yang penuh
perhatian, santun dalam bicara, lulus dalam memilih kata serta tulus dalam
menjalani tugasnya
sebagai istri, termasuk dalam menjalani apa yang sesungguhnya bukan
kewajiban istri tetapi
dianggap sebagai kewajibannya.
Sekali lagi, masihkah Anda sampai hati mendambakan tentang seorang perempuan
yang sempurna,
yang selalu berlaku halus dan lembut? Tentu saja saya tidak tengah
mengajak
Anda membiarkan
istri kita membentak anak-anak dengan mata membelalak. Tidak. Saya hanya
ingin mengajak Anda
melihat bahwa tatkala tubuhnya amat letih, sementara kita tak pernah menyapa
jiwanya, maka
amat wajar kalau ia tidak sabar.
begitu pula manakala matanya yang mengantuk tak kunjung memperoleh
kesempatan untuk
tidur nyenyak sejenak, maka ketegangan emosinya akan menanjak. Disaat itulah
jarinya yang
lentik bisa tiba-tiba membuat anak kita menjerit karena cubitannva yanq
bikin sakit.
Apa artinya? Benar, seorang istri shalihah memang tak boleh bermanja-manja
secara
kekanak-kanakan, apalagi sampai cengeng. Tetapi istri shalihah tetaplah
manusia yang
membutuhkan penerimaan. Ia juga butuh diakui, meski tak pernah meminta
kepada Anda.
Sementara gejolak-gejolak jiwa yang memenuhi dada, butuh telinga yang mau
mendengar.
Kalau kegelisahan jiwanya tak pernah menemukan muaranya
berupa kesediaan
untuk mendengar,
atau ia tak pernah Anda akui keberadaannya, maka jangan pernah menyalahkan
siapa-siapa
kecuali dirimu sendiri jika ia tiba-tiba meledak. Jangankan istri kita yang
suaminya tidak
terlalu istimewa, istri Nabi pun pernah mengalami situasi-situasi yang penuh
ledakan, meski
yang membuatnya meledak-ledak bukan karena Nabi Saw. tak mau mendengar
melainkan
semata karena dibakar api kecemburuan. Ketika itu, Nabi Saw. hanya diam
menghadapi 'Aisyah
yang sedang cemburu seraya memintanya untuk mengganti mangkok yang
dipecahkan.
Alhasil, ada yang harus kita benahi dalam jiwa kita.
Ketika kita menginginkan ibu anak-anak kita selalu lembut dalam mengasuh,
maka bukan
hanya nasehat yang perlu kita berikan. Ada yang lain.
Ada kehangatan yang perlu kita berikan agar hatinya tidak dingin, apalagi
beku, dalam
menghadapi anak-anak setiap hari, Ada penerimaan yang
perlu kita tunjukkan
agar anak-anak itu
tetap menemukan bundanya sebagai tempat untuk memperoleh kedamaian, cinta
dan kasih-sayang.
Ada ketulusan yang harus kita usapkan kepada perasaan dan pikirannya, agar
ia masih tetap
memiliki energi untuk tersenyum kepada anak-anak kita.
Sepenat apa pun ia.
Ada lagi yang lain: pengakuan. Meski ia tidak pernah menuntut, tetapi
mestikah kita menunggu
sampai mukanya berkerut-kerut.
Karenanya, marilah kita kembali ke bagian awal tulisan ini. Ketika
perjalanan waktu telah
melewati tengah malam, pandanglah istri Anda yang terbaring letih itu.
lalu pikirkankah sejenak, tak adakah yang bisa kita lakukan sekedar Untuk
menqucap terima kasih atau menyatakan sayang? Bisa dengan kata yang
berbunga-bunga, bisa
tanpa kata.Dan sungguh, lihatlah betapa banyak cara untuk menyatakannya.
Tubuh yang letih
itu, alangkah bersemangatnya jikadi saat bangun nanti ada
secangkir minuman
hangat yang
diseduh dengan dua sendok teh gula dan satu cangkir cinta.
Sampaikan kepadanya ketika matanya telah terbuka, "Ada secangkir minuman
hangat untuk
istriku. Perlukah aku hantarkan untuk itu?"
Sulit melakukan ini? Ada cara lain yang bisa Anda lakukan. Mungkin sekedar
membantunya
menyiapkan sarapan pagi untuk anak-anak, mungkin juga dengan
tindakan-tindakan lain, asal tak
salah niat kita. Kalau kita terlibat dengan pekerjaan di dapur, rnemandikan
anak,
atau menyuapi si mungil sebelum mengantarkannya ke TK, itu bukan karena
gender-friendly;
tetapi semata karena mencari ridha Allah. Sebab selain niat ikhlas karena
Allah, tak
ada artinya apa yang kila lakukan. Kita tidak akan mendapati amal-amal kita
saat berjumpa
dengan Allah di yaumil-kiyamah.
Alaakullihal, apa yang ingin Anda lakukan, terserah Anda. Yang jelas, ada
pengakuan untuknya,
baik lewat
ucapan terima kasih atau tindakan yang menunjukkan bahwa dialah
yang terkasih.
Semoga dengan kerelaan kita untuk menyatakan terima-kasih, tak ada airmata
duka yang menetes
dari kedua kelopaknya. Semoga dengan kesediaan kita untuk membuka telinga
baginya, tak ada
lagi istri yang berlari menelungkupkan wajah di atas bantal karena merasa
tak didengar. Dan
semoga pula dengan perhatian yang kita berikan kepadanya, kelak istri kita
akan
berkata tentang kita sebagaimana Bunda 'Aisyah radhiyallahu anha berucap
tentang suaminya,
Rasulullah Saw., "Ah, semua perilakunya menakjubkan bagiku."
Sesudah engkau puas memandangi istrimu yang terbaring letih, sesudah engkau
perhatikan gurat-gurat penat di wajahnya, maka biarkanlah ia sejenak
untuk meneruskan istirahnya. Hembusan udara dingin yang mungkin bisa
mengusik tidurnya,
tahanlah dengan sehelai selimut untuknya.
Hamparkanlah ke tubuh istrimu
dengan kasih-sayang dan cinta yang tak lekang
oleh perubahan,
Semoga engkau termasuk laki-laki yang mulia, sebab tidak memuliakan wanita
kecuali laki-laki
yang mulia.
Sesudahnya, kembalilah ke munajat dan tafakkurmu.
Marilah kita ingat kembali ketika Rasulullah Saw. berpesan tentang istri
kita. "Wahai
manusia,sesungguhnya istri kalian mempunyai hak atas kalian sebagaimana
kalian
mempunyai hak atas mereka. Ketahuilah,"kata Rasulullah Saw. melanjutkan,
'kalian mengambil
wanita itu sebagai amanah dari Allah, dan kalian halalkan kehormatan mereka
dengan kitab Allah.
Takutlah lepada Allah dalam mengurus istri kalian. Aku wasiatkan atas kalian
untuk selalu
berbuat baik. "
Taken From kammi_banten@yahoogroups.com
Rehat sejenak...
Sebuah legenda dimana ada seseorang begitu membangga-banggakan diri sehingga pekerjaan dia hanya memandangi dirinya sendiri.
Alkisah, seoranga muda yang setiap hari berlutut didekat danau untuk menganggumi keindahan dirinya sendiri. Ia begitu terpesona oleh dirinya hingga, suatu pagi, ia terjatuh kedalam danau itu dan tenggelam. Ditempat dimana ia terjatuh, tumbulah sekuntum bunga, yang dinamakan narcissus!
Pada saat Narcissus mati, dewi-dewi hutan muncul dan melihat danau tersebut, yang semula merupakan mata air segar berubah menjadi air-mata yang berasa asin.
"Mengapa engkau menangis?"tanya dewi pada danau.
"Aku menangisi Narcissus", jawabnya.
"Oooh,tidak mengherankan...karena pada saat kami mencarinya dihutan, hanya engkau yang dapat mengaguminya dari dekat..."
"Tapi...indahkah Narcissus?" tanya danau.
"Siapa yang lebih mengetahui daripada engkau?" Sang Dewi pun heran kebingunan. "Bukankah ia selalu didekatmu, karena setiap hari ia berlutut memandangi dirinya?"
Danau terdiam sesaat,kemudian ia berkata:
"Aku menangisi Narcissus, tapi aku tidak pernah memperhatikan bahwa Narcissus itu indah. Aku menangis karena setiap ia berlutut didekat tepianku dengan begitu dekatnya, sehingga membuat aku dapat melihat dari kedua bola matanya, pantulan keindahan diriku sendiri"
Pada saat kita memandang KAMMI itu indah, pada saat itu pula kita dapat melihat keindahan dari kadernya.

Hari ini seperti hari yg lain aku ke kampus
bla..bla..cuap- cuap saat bertemu sahabat.
tak terasa waktu shalat dzuhur tiba
sehabis wudhu,
aku sedikit bimbang!
apa aku sholat d sekretariat LDK seperti biasa ya?
Atau
sholat d aula yg kini berubah fungsi jd masjid
sejak pembangunan masjid-baru dimulai.
akhirnya kuputuskan sholat d aula.
bertemu beberapa mahasiswi yg asyik ngobrol
sedih
karena aku tidak sholat berjamaah
akhwat2 yg lain pd sholat d LDK
sedih
karena masjid ini mulai ditinggalkan

oleh
IRFAN ANSHORY
NAMA ASLI pulau Sumatera, sebagaimana tercatat dalam sumber-sumber sejarah dan cerita-cerita rakyat, adalah “Pulau Emas”. Istilah pulau ameh kita jumpai dalam cerita Cindur Mata dari Minangkabau. Dalam cerita rakyat Lampung tercantum nama tanoh mas untuk menyebut pulau mereka yang besar itu. Pendeta I-tsing (634-713) dari Cina, yang bertahun-tahun menetap di Sriwijaya (Palembang sekarang) pada abad ke-7, menyebut pulau Sumatera dengan nama chin-chou yang berarti “negeri emas”.
Dalam berbagai prasasti, pulau Sumatera disebut dengan nama Sansekerta: Suwarnadwipa (“pulau emas”) atau Suwarnabhumi (“tanah emas”). Nama-nama ini sudah dipakai dalam naskah-naskah India sebelum Masehi. Naskah Buddha yang termasuk paling tua, Kitab Jataka, menceritakan pelaut-pelaut India menyeberangi Teluk Benggala ke Suwarnabhumi. Dalam cerita Ramayana dikisahkan pencarian Dewi Sinta, istri Rama yang diculik Ravana, sampai ke Suwarnadwipa.
Para musafir Arab menyebut pulau Sumatera dengan nama Serendib (tepatnya: Suwarandib), transliterasi dari nama Suwarnadwipa. Abu Raihan Al-Biruni, ahli geografi Persia yang mengunjungi Sriwijaya tahun 1030, mengatakan bahwa negeri Sriwijaya terletak di pulau Suwarandib. Cuma entah kenapa, ada juga orang yang mengidentifikasi Serendib dengan Srilanka, yang tidak pernah disebut Suwarnadwipa!
Di kalangan bangsa Yunani purba, Pulau Sumatera sudah dikenal dengan nama Taprobana. Nama Taprobana Insula telah dipakai oleh Klaudios Ptolemaios, ahli geografi Yunani abad kedua Masehi, tepatnya tahun 165, ketika dia menguraikan daerah Asia Tenggara dalam karyanya Geographike Hyphegesis. Ptolemaios menulis bahwa di pulau Taprobana terdapat negeri Barousai. Mungkin sekali negeri yang dimaksudkan adalah Barus di pantai barat Sumatera, yang terkenal sejak zaman purba sebagai penghasil kapur barus.
Naskah Yunani tahun 70, Periplous tes Erythras Thalasses, mengungkapkan bahwa Taprobana juga dijuluki chryse nesos, yang artinya ‘pulau emas’. Sejak zaman purba para pedagang dari daerah sekitar Laut Tengah sudah mendatangi tanah air kita, terutama Sumatera. Di samping mencari emas, mereka mencari kemenyan (Styrax sumatrana) dan kapur barus (Dryobalanops aromatica) yang saat itu hanya ada di Sumatera. Sebaliknya, para pedagang Nusantara pun sudah menjajakan komoditi mereka sampai ke Asia Barat dan Afrika Timur, sebagaimana tercantum pada naskah Historia Naturalis karya Plini abad pertama Masehi.
Dalam kitab umat Yahudi, Melakim (Raja-raja), fasal 9, diterangkan bahwa Nabi Sulaiman a.s. raja Israil menerima 420 talenta emas dari Hiram, raja Tirus yang menjadi bawahan beliau. Emas itu didapatkan dari negeri Ophir. Kitab Al-Qur’an, Surat Al-Anbiya’ 81, menerangkan bahwa kapal-kapal Nabi Sulaiman a.s. berlayar ke “tanah yang Kami berkati atasnya” (al-ardha l-lati barak-Na fiha).
Di manakah gerangan letak negeri Ophir yang diberkati Allah itu? Banyak ahli sejarah yang berpendapat bahwa negeri Ophir itu terletak di Sumatera! Perlu dicatat, kota Tirus merupakan pusat pemasaran barang-barang dari Timur Jauh. Ptolemaios pun menulis Geographike Hyphegesis berdasarkan informasi dari seorang pedagang Tirus yang bernama Marinus. Dan banyak petualang Eropa pada abad ke-15 dan ke-16 mencari emas ke Sumatera dengan anggapan bahwa di sanalah letak negeri Ophir-nya Nabi Sulaiman a.s.
Lalu dari manakah gerangan nama “Sumatera” yang kini umum digunakan baik secara nasional maupun oleh dunia internasional? Ternyata nama Sumatera berasal dari nama Samudera, kerajaan di Aceh pada abad ke-13 dan ke-14. Para musafir Eropa sejak abad ke-15 menggunakan nama kerajaan itu untuk menyebut seluruh pulau. Sama halnya dengan pulau Kalimantan yang pernah disebut Borneo, dari nama Brunai, daerah bagian utara pulau itu yang mula-mula didatangi orang Eropa. Demikian pula pulau Lombok tadinya bernama Selaparang, sedangkan Lombok adalah nama daerah di pantai timur pulau Selaparang yang mula-mula disinggahi pelaut Portugis. Memang orang Eropa seenaknya saja mengubah-ubah nama tempat. Hampir saja negara kita bernama “Hindia Timur” (East Indies), tetapi untunglah ada George Samuel Windsor Earl dan James Richardson Logan yang menciptakan istilah Indonesia, sehingga kita-kita ini tidak menjadi orang “Indian”! (Lihat artikel penulis, “Asal-Usul Nama Indonesia”, Harian Pikiran Rakyat, Bandung, tanggal 16 Agustus 2004, yang telah dijadikan salah satu referensi dalam Wikipedia artikel “Indonesia”).
Peralihan Samudera (nama kerajaan) menjadi Sumatera (nama pulau) menarik untuk ditelusuri. Odorico da Pardenone dalam kisah pelayarannya tahun 1318 menyebutkan bahwa dia berlayar ke timur dari Koromandel, India, selama 20 hari, lalu sampai di kerajaan Sumoltra. Ibnu Bathutah bercerita dalam kitab Rihlah ila l-Masyriq (Pengembaraan ke Timur) bahwa pada tahun 1345 dia singgah di kerajaan Samatrah. Pada abad berikutnya, nama negeri atau kerajaan di Aceh itu diambil alih oleh musafir-musafir lain untuk menyebutkan seluruh pulau.
Pada tahun 1490 Ibnu Majid membuat peta daerah sekitar Samudera Hindia dan di sana tertulis pulau Samatrah. Peta Ibnu Majid ini disalin oleh Roteiro tahun 1498 dan muncullah nama Camatarra. Peta buatan Amerigo Vespucci tahun 1501 mencantumkan nama Samatara, sedangkan peta Masser tahun 1506 memunculkan nama Samatra. Ruy d’Araujo tahun 1510 menyebut pulau itu Camatra, dan Alfonso Albuquerque tahun 1512 menuliskannya Camatora. Antonio Pigafetta tahun 1521 memakai nama yang agak ‘benar’: Somatra. Tetapi sangat banyak catatan musafir lain yang lebih ‘kacau’ menuliskannya: Samoterra, Samotra, Sumotra, bahkan Zamatra dan Zamatora.
Catatan-catatan orang Belanda dan Inggris, sejak Jan Huygen van Linschoten dan Sir Francis Drake abad ke-16, selalu konsisten dalam penulisan Sumatra. Bentuk inilah yang menjadi baku, dan kemudian disesuaikan dengan lidah kita: Sumatera.***
Sumber utama:
Nicholaas Johannes Krom, “De Naam Sumatra”, Bijdragen tot de Taal-, Land-, en Volkenkunde, deel 100, 1941.
William Marsden, The History of Sumatra, Oxford University Press, Kuala Lumpur, cetak ulang 1975.
Terus bergerak tuntaskan perubahan
oleh : Liyuda Saputra
Saudaraku pejuang KAMMI masih ingat dengan jargon KAMMI ketika menjelang Muktamar II di Jogjakarta suatu tema besar yang menjadi semangat atau ruh. Dimana ketika itu tema ini diangkat berangkat dari pengaruh politik yang luar biasa yaitu ketika Pemilu 1999 (pemilu pertama pasca turunnya rezim Suharto) telah melahirkan sebuah pemerintahan transisi baru Jilid II. Ketika terbentuknya pemerintahan baru duet presiden Abdurrahman Wahid dan wakil presiden Megawati Soekarno Putri, berbagai kalangan masyarakat menaruh harapan besar akan tuntasnya AGENDA-AGENDA Reformasi. Namun demikian, besarnya harapan juga kepecayaan masyasyarakat terhadap pemerintahan baru yang ditopang oleh lembaga pemerintahan DPR/MPR baru, tidak membuat gerakan mahasiswa khususnya KAMMI untuk menanggalkan sikap kritisnya. Bahkan dalam berbagai pandangan yang menemuka pada Muktamar II KAMMI, seperti yang dijelaskan oleh Haryo Setyoko, ada kesepakatan bahwa fase transisi jilid II inilah sisa-sisa tuntutan Reformasi yang ditinggalkan Habibie, haurs diselesaikan. Fase ini bahkan menurut KAMMI menjadi fase kritis karena bola reformasi bisa bergerak ke salah satu dari dua kemungkinan, yaitu bergerak maju atau sebaliknya bergerak mundur. Kesadaran akan realitas politik semacam inilah yang meletarbelakangi diangkatnya tema besar "Terus bergerak tuntaskan perubahan".
Dibalik tema besar itu telah menjadi jargon sepanjang masa KAMMI tuk mengiring zaman ini. Dimana perubahan mengawali KAMMI akan selalu memdampingi. Dimana perubahan mengakhiri KAMMI siap mengakhirinya juga dengan harapan sesuai visi yang telah dicita-citakan oleh KAMMI.
Terus bergerak ibarat air yang terus mengalir walaupun ada hambatan air itu pantang menyerah untuk mencari celah untuk bergerak. Terus bergerak ibarat angin yang berada dalam suatu ruangan dimana bila angin itu terus diberi tekanan maka kembali akan melahirkan perubahan.
Dunia bukanlah makhlukNya yang diam tak bergerak. Kenyataannya, dunia senantiasa bergerak dan tumbuh ke arah-arah tertentu. Kenyataan ini menciptakan KAMMI tidak mudah menerapkan sebuah kebijakan atau sebuah strategi dalam dunia yang selalu bergerak tersebut. Sebuah kebijakan dapat saja secara tiba-tiba menjadi usang dan basi. Sunnatullah pergerakan dan pertumbuhan terhadap dunia inilah yang menuntut selalu dimunculkannya kebijakan atau strategi baru.
Rasanya kita semua paham bahwa kebijakan atau strategi apa pun yang diambil leh manusia selalu memiliki keterbasan. Oleh sebab itu, strategi selalu memiliki ciri perubahan bahkan dengan kecepatan yang kadang teramat tinggi. Fenomena ini adalah manusiawi. Artinya, sepanjang regulasi tersebut diambil oleh manusia, sepanjang itu pula kemungkinan terjadi perubahan. Hanyalah Allah SWT yang mampu mengambil regulasi yang tsabat dan kokoh.
Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan) kerjakanlah dengan sungguh-sungguh urusan yang lain.
Mainstream berpikir teman-teman KAMMI akan semakin berubah sesuai dengan tingkatan jenjang kaderisasi yang telah dilalui.
Prototype pemimpin masa depan yang diciptakan oleh KAMMI untuk memasuki wailayah dakwah parlemen, insyaALLAH tahun-tahun berikutnya yang telah diplanningkan oleh pemikir KAMMI untuk memasuki sektor public.
Screening terhadap semua proses seleksi seperti yang telah diterapkan oleh kaderisasi KAMMI merupakan sebuah proses seleksi untuk menciptakan kader yang tangguh untuk menjadi pemimpin masa depan.
Merubah paradigma dalam berubah kembali merupakan suatu keniscayaan dalam bergerak untuk mencapai suatu kemapanan gerakan KAMMI ini yang harus dilakukan oleh seiap kader KAMMI.
Dimana peserta hadir melalui proses seleksi sekedar ada atau bahkan tidak sama sekali.
Demikian pula kondisi saat ini mengharuskan kita untuk menghadap semua ini (realita kemunduran umat) dan berjuang unuk menyelamatkan umat dari mara bahaya yang mengepung dari seluruh penjuru.
Untuk menjadi agent of change (agen pembawa perubahan) ataupun nantinya akan menjadi direct of change (pengendali perubahan) adalah harga mati suatu tawarkan yang menjadi jalan juang KAMMI.
Heraclitus, seorang filusuf Yunani pernah mengatakan, "Nothing endure but the change" (tidak ada yang abadi selain perubahan itu sendiri. Hal nampaknya semakin relevan dengan situasi saat ini dengan terjadinya begitu banyak perubahan di sekitar kita ataunpunn di sekililing kita. Sulit mempertahankan sesuatu yang tadinya diyakini sudah baik. Namun lebih dari itu, perubahan tidak saja terus terjadi, namun juga kecepatannya semakin meningkat (rapid change). Hal itu membuat apa yang kita anggap wajar saat ini dalam waktu yang sangat singkat, bisa berubah menjadi tidak wajar.
Bergerak tanpa ilmu memang sebuah kekonyolan. Namun, perencanaan, jargon serta misi tanpa gerakan adalah ironis dan menyedihkan. Kita seharusnya merasa sangat memadai untuk melakukan perubahan hanya dengan kemampuan kita untuk bergerak, yaitu bergerak menuju tujuan perubahan.
InsyaALLAH akankah KAMMI masa akan datang (future of vision) akan kembali menciptakan penetrasi-penetrasi gerakannya untuk berkembang dalam menawarkan transformasi Gerakan dan strategi pengembangan gerakan KAMMI untuk kemajuan bangsa ini sesuai dengan jargon KAMMI saat ini MUSLIM NEGARAWAN. Jawabannya ada di antum wa antuna?
TERUS BERGERAK TUNTASKAN PERUBAHAN akan selalu mengawali dan mengakhiri KAMMI dalam gerakannya.
Ikhwah Fillah,
Jangan berhenti untuk bergerak atau tergilas oleh berkembangnya dan berubahnya jaman ini. Jangan berhenti bergerak karena kelamahan antum karena Allah selalu bersama. Teruslah bergerak untuk menuntaskan perubahan yang nantinya insyaALLAH akan melahirkan dan menjadi pemimpin masa depan menuju masyarakat yang madani.
In uridlu illalishlaha mastatho'tu,… ..
kammi_banten@yahoogroups.com
Empat jempol deh buat akhwat2 yang sukses kemarin dengan aksinya^_^
Walau saat persiapan rada kurang koordinasi, syukurlah semua berjalan
baik.
Pemberitauan ni buat bapak-bapak,
kemarin akhwat pada aksi tanpa di bantu ikhwan. Seru juga.
Mulai dari persiapan, izin k Polres, bikin release, kelengkapan aksi,
semua akhwat yg ngerjain. Eits! ada ding ikhwan yg bantu. Pak Ketuplak
DM-2 Qta minta beliin air mineral. Lainnya, akhwat yg handle.
Jarang-jarang ni akhwat nyiapi aksi sendiri. Ternyata bisa juga ya^_^
Jeng Imas, Dina, Perempuan Juga Bisa!!
Salam,
Mey
kammi_banten@yahoogroups.com
Bersama Bu Bendahara hari ini keliling jalan Serang. Cek tempat d Setda Propinsi. Nunggu lamaaa sekali. Tetap aja hasilnya ga' bisa. Yah! Padahal Qta bedua da ngejer dari kemarin.
Sabar.
Ke Kamda. Disana disambut muka sibuk T'Nia dan T' Fahiroh. Tetep tentang DM-2.
Karena ada janji d kampus dengan teman ba'da shalat zuhur segera langkah kaki ini diayunkan ke kampus. Neplek, Bu. Habis Yani masih betah d kamda. Ga' bisa nganter katanya.
Untung ada dua akhwat Untirta Serang yg habis tes wawancara. Barengan yuuk pulangnya.
Duh...Serang kok seperti terbakar ya? Panas banget! Di persimpangan Penancangan Qta berpisah. Mereka naik angkot ke Untirta. Karena IAIN termasuk dekat dari penancangan, maka acara nepleknya bersambung. Panas, gerah, efek global warming nih. kira-kira dua belas langkah, eh mentari yg membakar agak meredup. Alhamdulillah.
Ternyata itu tanda2 kalau Serang bakal tersiram hujan. tu liat langit gelap. Titik hujan mulai membuat orang2 di jalan panik mencari tempat berlindung. Selamat datang hujan.
Assalamu'alaikum
selamat pagi semua...
Kammiers, lagi suntuk, bete, ke kamda aja Qta metis^_^
Secara, Cin, sekarang buah jambu d kamda lagi berbuah. Tapi, ada yg protes. Katanya nih tu buah subhat dimakan karena pohon jambu itu yg punya kan Ibu rumah, bukan punya kamda.
Whateverlah, yg penting metis..metis...
